Ta Chia Siek Tao Hao,
Kabar gembira bagi kita semua.
Website Kelenteng.com masuk Majalah Sinergi Edisi Juni 2007, pada halaman 47.
Terima kasih kepada Bpk. Yudi Marhadi (Redaksi Majalah Sinergi) yang berkenan menayangkan Kelenteng.com pada Majalah Sinergi.
Semoga Kelenteng.com bisa memberikan pengertian-pengertian yang benar kepada masyarakat umum dan warisan luhur nenek moyang Tionghoa bisa terus lestari.
Berikut ini adalah artikelnya:
Majalah Sinergi Indonesia
Edisi 51 – Juni 2007
Hal 47Judul: Media Komunikasi dan Tukar Informasi Kelenteng
…memiliki visi melestarikan budaya nenek moyang Tionghoa sebagai aset negara RI serta misinya menjabarkan lebih jauh warisan kelenteng kepada generasi penerus…
Bagi anda yang ingin mengetahui seputar kelenteng, tak salah bila mengklik www.kelenteng.com. Sebab di website ini tersaji lengkap kelenteng-kelenteng yang ada di bumi nusantara maupun beberapa negara. Baik itu sejarah, pendiri, ataupun lokasi keberadaannya.
Diluncurkan sejak tahun 2001 silam, website ini memiliki visi melestarikan budaya nenek moyang Tionghoa sebagai aset negara RI serta misinya menjabarkan lebih jauh warisan kelenteng kepada generasi penerus.
Memang tak dipungkiri kalau satu kelenteng tidak dapat dipisahkan dari keberadaannya itu sendiri. Sempat dilarang penggunaan kata kelenteng oleh kebijakan penguasa negeri ini, sekarang banyak yang kembali menggunakan nama kelenteng untuk satu tempat ibadah. Namun persoalan muncul kembali, apa generasi muda khususnya Tionghoa mengetahui apa itu kelenteng?
Kegelisahan itu kemudian dijawab oleh pengelola kelenteng dot com. Menurut pengelola, kehadiran website dimaksudkan agar kelenteng makin dikenal, supaya mudah jika mau mengunjungi suatu kelenteng, ajang komunikasi dan bertukar informasi tentang kelenteng serta sarana tanya jawab kerohanian dan interaksi umat dan pengurus.
Bahan-bahan
Untuk mengelola satu website tak bisa terbantahkan, pengelola mengalami persoalan terutama adanya sebagian kecil pihak yang mencoba merusak, baik secara informasi maupun teknis. Meski demikian, selama kemunculannya di dunia maya, website ini disambut positif. Terbukti adanya respon, baik dari orang-orang yang berada di tanah air maupun orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.
Lalu, kalau boleh tahu, darimanakah pengelola mendapatkan bahan-bahan seputar kelenteng?
“Dari kunjungan langsung ke kelenteng yang bersangkutan, tokoh-tokoh senior, buku maupun catatan sejarah dari Tiongkok,” jawab pengelola kepada SINERGI INDONESIA melalui email.
Sebagai tempat ibadah, keberadaan kelenteng di tanah air rata-rata memiliki usia ratusan tahun. Karena sudah lama, banyak kelenteng yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sadar akan hal ini, pengelola website coba memerankan fungsinya dengan memberikan informasi yang lengkap ke masyarakat agar kelenteng terus dilestarikan.
Sebenarnya partisipasi atau peran aktif bukan dari pengelola website saja untuk memelihara agar keberadaan kelenteng tetap terjaga. Seluruh masyarakat yang berkepentingan pun, diharapkan uluran tangannya. Kita sungguh sedih bila menyaksikan beberapa kelenteng yang merupakan cagar budaya, sudah tidak berfungsi sebagaimana adanya karena kondisinya tidak layak lagi.
Disamping masyarakat itu sendiri yang perlu menjaga dan merawat, tangan pemerintah pun diperlukan. Tapi berharap penuh sangat sulit, sebab pemerintah banyak urusan dan persoalan yang mesti diselesaikan.
Bagaimana pengamatan pengelola website, mengenai peran pemerintah terhadap kelenteng?
Dari pengamatan yang dilakukan, pengelola melihat peran pemerintah dari kebijakan yang dibuat. Menurutnya, sekarang pemerintah sudah membuka diri, melonggarkan peraturan-peraturan, tidak lagi secara ketat diawasi dan Departemen Agama sudah mulai merangkul kelenteng-kelenteng. (YUM)
Filed under: Organisasi Ditandai: | kelenteng, majalah, sinergi